Sabtu, 07 November 2009

soempah pemoeda

Walaupun sudah lebih satu abad sumpah pemuda yang digemakan oleh para pemuda-pemudi Indonesia, tapi yakinlah sumpah pemuda tersebut akan selalu tetap bergema dibumi nusantara yang indah ini. Walaupun sekarang sudah zamanya modern dan serba teknologi tapi rasa cinta dan sayang kami pada pemuda –pemudi dulu tidakkan kami lupakan begitu saja, seperti sumpah pemuda yang penuh makna tersebut yang diikrarkan pada 28 oktober 1928 tersebut.
Sumpah pemuda yang diikrarkan pada 28 oktober 1928 tersebut mempunyai perjalanan yang panjang dan penuh makna dalam setip detik waktunya. Lahirnya Sumpah Pemuda didorong adanya keinginan pemuda Indonesia masa itu untuk menciptakan persatuan. Sebab, perkembangan organisasi kepemudaan di Indonesia masih bersifat kedaerahan.

Maka, langkah pertama yang dilakukan adalah mengadakan Kongres Pemuda Indonesia I yang dilaksanakan pada 30 April-2 Mei 1926. Tujuan mengadakan kongres adalah menanamkan semangat kerja sama antar perkumpulan pemuda di Indonesia untuk menjadi dasar persatuan Indonesia dalam arti yang lebih luas.

Namun, usul tersebut tidak berhasil karena masih kuatnya sifat kedaerahan. Karena itu, pada 15 Agustus 1962 beberapa organisasi pemuda mengadakan pertemuan di Jakarta untuk membicarakan suatu badan tetap bagi kepentingan pemuda Indonesia. Hasilnya, pada 31 Agustus 1962 disahkan sebuah anggaran organisasi baru yang bernama "Jong Indonesia" dengan tujuan menanamkan dan mewujudkan cita-cita persatuan Indonesia.

Akan tetapi, harapan pada "Jong Indonesia" tidak terpenuhi. Karenanya, di awal tahun 1926 telah berdiri pula satu oganisasi dengan nama yang sama dan tujuan yang tidak jauh berbeda. Lalu pada September 1926, para pelajar di Jakarta dan Bandung mendirikan organisasi Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) di Jakarta.

Berdasarkan pandangan tersebut, PPPI bertujuan memperjuangkan Indonesia Merdeka dan para anggota dididik menjadi pemimpin rakyat sejati. Dengan demikian, para anggota harus rajin belajar. Cita-cita tersebut hanya akan tercapai apabila sifat kedaerahan lenyap.

Pada 1928, alam politik Indonesia sudah dipenuhi jiwa persatuan. Rasa kebangsaan telah ditemukan dalam diri bangsa Indonesia, rasa memiliki cita-cita tinggi, yaitu Indonesia Merdeka telah mencekam jiwa rakyat Indonesia yang terjajah.

Dalam Kongres Pemuda Indonesia II pada 27-28 Oktober di Jakarta yang dihadiri utusan organisasi pemuda, diikrarkan satu sumpah yang terkenal dengan Sumpah Pemuda. Isinya adalah:




Pertama: Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Dalam kongres tersebut diperkenalkan lagu Indonesia Raya yang diciptakan Wage Rudolf Supratman yang selanjutnya menjadi lagu kebangsaan serta dikibarkannya Bendera Merah Putih yang dipandang sebagai bendera pusaka bangsa Indonesia.

Peristiwa Sumpah Pemuda pada 27-28 Oktober 1928 itu merupakan salah satu puncak pergerakan nasional. Karena itu peristiwa yang bersejarah ini setiap tahun diperingati sampai sekarang sebagai hari besar nasional.
Begitu gigihnya perjuangan pemuda-pemudi kita dulunya, hanya untuk menyatukan pemuda –pemudi indonesia yang pada saat itu pemuda-pemudi indonesia masih bersipat kedaerahan.
Tapi sekarang kita tidak perlu melakukan yang seperti dilakukan pemuda-pemudi kita dulu, tapi yang kita lakukan adalah bekerja keras dan berusaha untuk memajukan bangsa indonesia sebagai bangsa yang aman, sejahtera yang berlandaskan kepada tuhan yang maha esa.
Dan saya menghimbau kepada pemuda-pemudi indonesia harapan bangsa, mari kita bangkit dan berkembang dan berpikiran maju untuk mengembangkan bangsa indonesia ini. Mari…mari…mari…kita majukan bangsa kita ini yang telah dicita-citakan oleh pemuda-pemudi kita dulunya, siapa lagi kalu bukan kita wahai Pemuda…….

Minggu, 18 Oktober 2009

DIRGAHAYU KUANTAN SINGINGI KE-10

DIRGAHAYU KUANTAN SINGINGI KE-10



DIRGAHAYU KUANTAN SINGINGI KE-10

Hallo my visitors saat ini saya akan menyampaikan tentang “DIRGAHAYU KUANTAN SINGINGI KE-10”,woy bloggers tau ndak sejarah Kuantan Singingi hingga berusia 10 tahun.Baiklah blogggerrss saya akan ceritakan baca ya.Pada awalnya Kabupaten Kauntan Singingi ini merupakan sebuah Kecamatan yang tergabung dalam Kabupaten Indragiri Hulu yang memisahkan diri dari Indragiri Hulu pada tanggal 12 oktober. Dan waktu itu telah tiba sekaligus diperingati sebagai hari jadi kabupaten Kuantan Singingi yang terdiri dari 12 kecamatan.Way bloggers tau ndak apa yang dilakukan pemerintah Kuantan Singingi dalam rangka menyambut HUT Kuantan singingi yang ke-10 yang bertepatan pada tanggal 12 oktober.Pemerintah kabupaten Kuantan singingi mengadakan berbagai acara olahraga seperti pertandingan futsal,volley ball,dan gerak jalan santai.Pada gerak jalan ini diselesnggarakan pada hari minggu pagi yaitu sehari sebelum HUT Kuantan singingi.Gerak jalan ini dimulai dari lapangan limuno yang dilepas oleh bapak bupati Kuntan singingi yakni bapak Sukarmis.

Setelah berjalan mengikuti rute yang telah ditentukan panitia sesampainya kembali dilapangan limuno dilakukan acara door prize!!!!! Yang telah di sediakan oleh panitia berbagai hadiahnya.Apabila nomor yang kita pegang yang di bagikan sebelum gerak jalan dimulai terpilih maka kita akan mendapatkan hadiah tersebut.
Hari ceremony yang dilakukan pada tanggal 12-10-2009 di lapangan limuno yang berlokasi di taluk kuantan berlangsung dengan hikmat.

Woy…..blogerrs itulah proses dirgahayu kuantan singingi yang ke-10.

Kuantan singingi kan selalu dihati
Kan ku pertahankan hingga napas berhenti
Kuantan singingi tetaplah berdiri
Dengan budaya,adat,dan tradisi…..

Berjayalah kuantan singingi ciptakan generasi yang memiliki kualitas yang bagus semoga dengan bertambahnya umur akan semakin lebih maju I loveeeeee yuuuuuuuuuuuuuuuu fulllllllllllll KUANTAN SINGINGI.

Rabu, 30 September 2009

nama;yardu syidratil mardatillah
kelas: XII IPA1
gURU:Ronaldo Rozalino S.Sn
Bubar(buka bareng) bupati di sma pintar


Pada tanggal 20 ramadhan tepatnya hari kamis merupakan hari yang membahagiakan bagi keluarga besar sma pintar karna pada hari itu Bupati kuantan singingi H.Sukarmis beserta beberapa unsur pemerintahan kabupaten kuantan singingi menyempatkan diri untuk berbuka puasa bersama keluarga besar sma pintar.ampai di
Pada hari itu bapak H.Sukarmis terlihat sangat gembira mulai dari pertama datang di sma pintar sampai acara selesai,saat acara penyambutan siswa siswi berbaris mulai dari gerbang sampai didepan gedung skb dengan diiringi oleh musik rabana dan dilanjutkan dengan sa ber
menyempatkan diri untuk berfoto dengan siswa siswi sma pintar dan dilanjutkan dengan buka bersama setelah itu dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaa makan bersama.sholat isya,sholat terawih dan witir berjamaah.
Setelah sholat berjamaa selesai acara silaturrahmipun dimulai bapak bupati,bapak zulkifli dan bapak alwis menyampaikan pidatonya yang berisi harapan harapan kepada siswa siswi sma pintar.sebelum itu bapak H.Zulhefis juga menyampaikan laporannya tentang sma pintar dan dilanjutkan dengan santapan rohani ramadhan yang disampaikan oleh tim safari kuansing.
Hendaknya acara seperti ini dapat berlanjut di masa yang akan dating dan menjadi agenda rutin setiap tahunnya demi mempererat hubungan keluarga besar sma pintar dengan unsur pemerintahan kabupaten kuantan singing.namun karena waktu yang terbatas acara Tanya jawab dan diskusi antara keluarga sma pintar dengan bapak bupati dan rombongan tidak dapat terlaksana,hendaknya di gedung yang baru nanti acara ini dapat terlaksana.

Selasa, 01 September 2009

PACU JALUR BUDAYA DAERAHKU

NAMA:YARDI SIDRATIL MARDATILLAH
KELAS:XII IPA 1


OPINI SAYA TENTANG PACU JALUR

PACU JALUR merupakan warisan budaya dari nenek moyang masyarakat kuantan singingi
pacu jalur ini berasal dari upacara penghormatan kepada ratu belanda
sampan jalur ini berasal dari sebatang pohon yang ditebang,kemudian dipahat
diberi bentuk dan ukiran agar terlihat menarik.Dibelakang jalur itu diberi sepotong kayu yang diukir dinamakan
'SALIMBAYUNG"
SETIAP BULAN AGUSTUS selalu disemarakkan dengan pacu jalur.dimana setiap orang yang berada dipenjuru kampung berbondong -bondong membanjiri tepian NEROSA.Bagi mereka yang berada diluar daerah KUANSING biasanya sengaja pulanh hanya untuk menonton pacu jalur tersebut.bahkan event pacu jalur lebih ramai dibanding kan event2 lain dikuansing bahkan lebih ramai daripada hari raya idul fitri.pacu jalur diadakan hanya setahun sekali 3-4 hari.
pacu jalur sudah termasuk dalam agenda pariwisata nasional lohh
Oleh karena itu,kita berharap supaya warisan budaya kita dapat dipertahankan agar tidak punah.karena pacu jalur ciri khas kabupaten kita KUANSING.kita harus bangga dan berupaya melestarikannya agar anak cucu kita dapat menyaksikannya kelak dengan ikut berpartisipasi dan jangan biarkan budaya kita dicuri oleh bangsa lain karena kita tidak pandai melestarikannya

AYO LESTARIKAN BUDAYA KITA.BUDAYAKU,BUDAYA KITA JUGA KAN???????


MUSIK MODERN


Musik modern adalah karya musik yang tidak terdapat unsur tradisional dan sudah terdapat gubahan baik nada maupun komposisi penyusun musik tersebut.Artinya dalam karya musik ini sudah meninggalkan ciri khas suatu budaya di daerah / bangsa.
Musik modern disebut juga dengan musik populer.yaitu musik yang banyak penggemarnya. Musik populer / modern memiliki beat (ketukan) yang konstan.Dan menggunakan tangga nada diatonic mayor maupun minor.
Berdasarkan tahun,jenis musik dibagi mejadi :

1.Musik zaman renaisans (1500 – 1600 )
2. Musik zaman Barok (1600 – 1700 )
3. Musik zaman Klasik ( 1700 – 1800 )
4. Musik zaman Romantik (1800 – 1900 )
5. Muaik zaman Modern (1900 – sekarang )

Berikut beberapa contoh karya musik modern, yaitu :

 Musik POP

Musik ini lahir untuk melepaskan dari kejenuhan musik klasik yang serba terikat. Maksudnya ,banyak teori – teori dan terpatok pada notasi .Salah satu pelopor musik pop ini adalah “THE BEATHLES”.
Ciri – ciri musik pop adalah sbb:

 Melodi mudah diterapkan dengan berbagai karakter lirik.
 Sangat fleksibel jika dipadukan dengan style lain
 Lagu umumnya mudah disenandungkan dan diserap, harmoni tidak terlalu rumit,temponya bervariasi.
Tokohnya antara lain : KOES PLUS,BIMBO,RINTO HARAHAP

Jumat, 29 Mei 2009

Tugas art of culture

nama : yardi syidratil mardatillah
kelas : IPA 3
GBS : RONALDO ROZALINO , S.SN
SEKOLAH : SMART SCHOOL

1 . TARI JAIPONG

Jaipongan adalah seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Ia terinspirasi pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan atau Bajidoran atau Ketuk Tilu. Sehingga ia dapat mengembangkan tarian atau kesenian yang kini di kenal dengan nama Jaipongan.

Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari “Daun Pulus Keser Bojong” dan “Rendeng Bojong” yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Awal kemunculan tarian tersebut semula dianggap sebagai gerakan yang erotis dan vulgar, namun semakin lama tari ini semakin popular dan mulai meningkat frekuensi pertunjukkannya baik di media televisi, hajatan, maupun perayaan-perayaan yang disenggelarakan oleh pemerintah atau oleh pihak swasta.

Dari tari Jaipong ini mulai lahir beberapa penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kirniadi. Kehadiran tari Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para pencinta seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang di perhatikan. Dengan munculnya tari Jaipongan ini mulai banyak yang membuat kursus-kursus tari Jaipongan, dan banyak dimanfaatkan oleh para pengusaha untuk pemikat tamu undangan.

Di Subang Jaipongan gaya “Kaleran” memiliki ciri khas yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan. Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang.

Tari Jaipongan pada saat ini bisa disebut sebagai salah satu tarian khas Jawa Barat, terlihat pada acara-acara penting kedatangan tamu-tamu dari Negara asing yang datang ke Jawa Barat, selalu di sambut dengan pertunjukkan tari Jaipongan. Tari Jaipongan ini banyak mempengaruhi pada kesenian-kesenian lainnya yang ada di Jawa Barat, baik pada seni pertunjukkan wayang, degung, genjring dan lainnya yang bahkan telah dikolaborasikan dengan Dangdut Modern oleh Mr. Nur dan Leni hingga menjadi kesenian Pong-Dut.

2 . SENI TARI JAWA TENGAH

Tari sering disebut juga ”beksa”, kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”, kata tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan, yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh.
Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan melalui gerak-gerak organ tubuh yang ritmis, indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. Seni tari yang merupakan bagian budaya bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif, Hindu sampai masuknya agama Islam dan kemudian berkembang. Bahkan tari tidak dapat dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan. Tari mengalami kejayaan yang berangkat dari kerajaan Kediri, Singosari, Majapahit khususnya pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk.
Surakarta merupakan pusat seni tari. Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di Pura Mangkunegaran. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah, terus sampai jauh di luar Jawa Tengah. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat dipertanggungjawabkan. Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau kerabat kraton yang berkedudukan. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta. Macam-macam tariannya :

Srimpi, Bedaya, Gambyong, Wireng, Prawirayuda, Wayang-Purwa Mahabarata-Ramayana. Yang khusus di Mangkunegaran disebut Tari Langendriyan, yang mengambil ceritera Damarwulan.

Dalam perkembangannya timbullah tari kreasi baru yang mendapat tempat dalam dunia tari gaya Surakarta. Selain tari yang bertaraf kraton (Hofdans), yang termasuk seni tari bermutu tinggi, di daerah Jawa Tengah terdapat pula bermacam-macam tari daerah setempat. Tari semacam itu termasuk jenis kesenian tradisional, seperti :
-- Dadung Ngawuk, Kuda Kepang, Incling, Dolalak, Tayuban, Jelantur, Ebeg,
Ketek Ogleng, Barongan, Sintren, Lengger, dll.

Pedoman tari tradisional itu sebagian besar mengutamakan gerak yang ritmis dan tempo yang tetap sehingga ketentuan-ketentuan geraknya tidaklah begitu ditentukan sekali. Jadi lebih bebas, lebih perseorangan.

Dalam seni tari dapat dibedakan menjadi klasik, tradisional dan garapan baru. Beberapa jenis tari yang ada antara lain :

1. Tari Klasik

-- Tari Bedhaya :
Budaya Islam ikut mempengaruhi bentuk-bentuk tari yang berangkat pada jaman Majapahit. Seperti tari Bedhaya 7 penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali Sanga. Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada Mataram Islam, tepatnya sejak perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya, Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas, maka disusunlah Bedhaya dengan penari berjumlah 9 orang. Hal ini kemudian dibawa ke Kraton Kasunanan Surakarta. Oleh Sunan Pakubuwono I dinamakan Bedhaya Ketawang, termasuk jenis Bedhaya Suci dan Sakral, dengan nama peranan sebagai berikut :



a. Endhel Pojok
b. Batak
c. Gulu
d. Dhada
e. Buncit
f. Endhel Apit Ngajeng
g. Endhel Apit Wuri
h. Endhel Weton Ngajeng
i. Endhel Weton Wuri

Pelaku Seni Cokekan Magetan di Tengah Maraknya Musik Modern

Berangkat setelah Subuh, Sehari Bisa Dapat Rp 50 Ribu
Seni Cokekan seringkali dipandang sebelah mata. Selain pemainnya yang sudah tua, alat musiknya juga seadanya. Namun, seni tradisional itu hingga kini masih terus bertahan. Seperti apa kisahnya?

DIDIK HARYONO – Magetan

KAKI dua pria tua melangkah gontai menyusuri trotoar sebelah barat Alun-Alun Magetan. Terik matahari menjelang dzuhur membuat keduanya menyeringai serta merapatkan kelopak matanya.

Di depan keduanya, berjalan seorang perempuan paro baya dengan dandanan cukup menor ditambah balutan kebaya warna biru serta jarit abu-abu. Selendang warna merah yang menggantung di lehernya berkibaran diterpa angin.

Kedua pria itu berjalan beriringan. Yang satu menggendong kendang di bahu sebelah kanan. Tangan kirinya menenteng bumbung bambu yang panjangnya sekitar setengah meter.

Sesekali, ia membetulkan letak topi warna hitam kesayangannya. Baju warna kuning yang dikenakan tampak mencolok siang itu. Di sampingnya, tampak pria yang tubuhnya lebih kecil dan ringkih.

Mengenakan baju warna abu-abu dan topi pramuka, ia menjinjing siter di tangan kanannya. Langkah keduanya mengikuti “sang putri” yang berjalan di depan.

Tak lama berselang, ketiganya berhenti di warung depan kantor DPRD Magetan. Wanita yang mengenakan kebaya itu duduk bersimpuh di atas kursi pendek yang lantas diikuti kedua pria. Mereka adalah pemain musik cokekan yang keliling dari desa ke desa.

Usai mengucapkan salam, kendang yang ditenteng Bagyo langsung ditabuh. Dentum bunyi kendang langsung diiringi nada yang keluar dari petikan jari Midin, pemain siter.

Tanpa dikomando, pada saat nada kendang dan siter berpadu pada nada tertentu, lantunan tembang Pepeling keluar dari bibir Sarmi. “Wis wancine, padha dielingke… (sudah waktunya untuk diingatkan)”.

Begitulah ketiganya memulai aksinya bermain musik cokekan. Pada nada-nada tertentu, Bagyo yang menabuh kendang mendekatkan mulutnya pada bumbung bambu disandarkan pada kakinya lantas meniupnya keras, bummm…layaknya suara gong.

Usai menyanyikan tembang Pepeling, Sarmi, 75, warga Desa-Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, yang kedapuk sebagai vokalis, terdiam sejenak. Ia lantas menawari beberapa warga yang duduk di warung dengan pilihan beberapa tembang. “Minta lagu apa Mas,” katanya centil.

Sarmi, yang sekaligus sebagai pembawa acara itu dengan sikap genit meminta warga yang duduk di dipan warung ini meminta lagu. Wajah keriputnya ditutupi bedak cukup tebal. Tapi, gurat kecantikannya masih begitu jelas kentara. Ia juga centil. “Mangga tho mas…” rayunya.

Usai melantunkan langgam jawa, Sri Huning, Sarmi mengaku telah keliling tiga kelurahan. Yakni, Tawanganom, Selosari dan Mangkujayan. Hanya saja, dari ketiga kelurahan itu mereka baru mendapatkan uang kurang lebih Rp 25 ribu. Padahal, uang tersebut nantinya dibagi bertiga.

Dari pengakuannya, ia menggeluti seni Cokekan sejak 10 tahun lalu. Sebelumnya, di Ngawi, ia gabung dengan kelompok seni kerawaitan. Lantaran usianya yang terus bertambah, ia jarang diajak saat kelompok tersebut pentas.

Akhirnya, ia bergabung dengan Bagyo dan Midin yang sudah terjun lebih lama di dunia cokekan. Biasanya, pukul 05.00, Sarmi berangkat dari Ngawi. “Terus pukul tujuh bersama rombongan mulai muter,” katanya.

Pernyataan serupa dilontarkan Midin, 70, warga Desa Tinap Kecamatan Sukomoro. Menurut dia, di rumahnya ada sekitar tujuh kelompok musik Cokekan. Mereka semua memiliki kelompok yang rata-rata terdiri tiga orang. Yakni, penyanyi, kendang dan siter. “Sudah sejak kecil saya keliling seperti ini,” kata kakek empat cucu itu dengan bangga.

Mereka bertiga mengaku membentuk kelompok sejak tahun 1998 lalu. Midin sendiri, mulai membeli siter bekas dan memperbaikinya sejak tahun 1988. Sebaliknya, Bagyo yang bertugas menabuh kendang mengaku membeli kendang pada tahun 1968 saat orang tuanya masih hidup. Kendang tua tersebut dulunya dibeli seharga Rp 25. “Biar jelek, tapi telah menjadi sumber urip (mata pencaharian) keluarga,” ujarnya.

Saat sepi seperti hari itu, Bagyo mengaku hanya mendapat bagian sekitar Rp 10 ribu. Namun, jika ramai, bisa mendapat bagian hingga Rp 50 ribu. “Tidak semua uang hasil tanggapan dibagi. Sebagian dipotong untuk makan dan uang jalan,” tambahnya.

Meski begitu, ketiganya mengaku senang bermain Cokekan. Selain menjadi mata pencaharian, ketiganya mengaku senang bisa bermain musik. “Hobi kami ini gamelan, jadi seneng sekali main meski bayarannya hanya seribu atau dua ribu,” kata Midin sambil tertawa.